Dukacita sepeninggal seorang yang berarti dalam hidup kita adalah hal yang wajar. Kita jangan merasa malu atau berpikir bahwa kita kurang beriman, apabila bila kesedihan atau amarah muncul di dalam diri kita karena seorang yang kita cintai telah berpulang.
Sebuah ungkapan bijaksana bagi mereka yang sedang berduka adalah: “Biarkan diri Anda berduka.”
Kadang kala kita ingin memberi kesan bahwa kita kuat kepada orang lain, termasuk menyenangkan mereka yang berkata kepada kita: “Sudahlah, jangan lagi bersedih.” Namun akan lebih berguna bagi kita apabila kita mengakui pada diri kita sendiri dan orang lain bahwa kita “sedang berduka.”
Kita tidak bisa mengingkari rasa dukacita. Tidak dengan menyibukkan diri kita, tidak pula dengan menganggapnya tidak ada. Kita perlu mengingat bahwa dukacita adalah bagian dari hidup, baik laki-laki atau perempuan, dan perlu waktu untuk melewatinya.
Material di blog ini dapat digunakan dan dibagikan tanpa izin dari blog author sepanjang penggunaannya adalah untuk pelayanan dan tidak mengenakan pungutan biaya apapun.
Popular Posts
-
Sumber Kesaksian: Lukas Bundiyanto Saya Lukas Bundiyanto, anak pertama dari lima bersaudara. Kehidupan saya yang hancur berantakan di Bali...
-
Kepada Tuhan kumengaku segala pelanggaranku. KepadaNya aku berseru 'tuk selamatkanku. Dalam kungkungan dosa aku akan binasa, namun da...
-
-
Isu tentang homoseks adalah yang paling kontroversial di zaman sekarang ini, dan karena isu ini sudah dipolitisir sedemikian rupa, pemahaman...
-
Aku mulai mengenal pornografi ketika aku berada dibangku SMA. Waktu itu aku mendapat buku bergambar dari teman. Aku juga mulai melakukan mas...
-
Definisi: Kelompok Tumbuh Bersama adalah kumpulan orang-orang yang dengan menyadari akan kasih karunia Allah yang berlaku di dalam kehidupan...
-
Suatu penemuan yang luar biasa tentang bagaimana memperoleh hidup yang dipulihkan. Sekelompok orang yang menamakan dirinya Oxford Group men...
Doa Ketentraman Jiwa
Ya Tuhan, karuniakanlah kepadaku
ketentraman jiwa untuk menerima
hal-hal yang tidak dapat aku ubah;
keberanian untuk mengubah
hal-hal yang dapat aku ubah;
dan hikmat untuk membedakan keduanya.
Hidup sehari demi sehari.
Menikmati satu waktu di setiap saat.
Melihat sengsara sebagai jalan pada kedamaian;
sama seperti Dia,
menerima dunia yang berdosa ini
dengan apa adanya, dan percaya
bahwa Ia akan membuat
segala sesuatunya indah
jika aku berserah pada kehendakNya;
supaya aku dapat sedikit berbahagia
dalam hidup ini
dan berlimpah bahagia
ketika aku bersamaNya selama-lamanya.
Amin.